Teori Perkembangan Bahasa Anak
Penelitian yang
dilakukan terhadap perkembangan bahasa aank tentunya tidak terlepas dari
pandangan, hipotesis, atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini sejarah
telah mencatat adanya tiga pandangan atau teori dalam perkembangan bahasa anak.
Teori tersebuat adalah sebagai berikut:
Pandangan Nativisme
Pandangan ini diwakili oleh Noam Chomsky.
Ia berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada anak-anak bersifat alamiah atau
nature. pandangan ini tidak berpendapat bahwa lingkungan punya pengaruh dalam
pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian
biologis, sejalan dengan terbukanya kemampuan lingual yang secara genetis telah
di programkan.
Kaum nativis berpendapat bahwa bahasa itu
terlalu kompleks dan rumit, sehingga mustahil dapat dipelajari dalam waktu
singkat melalui metode seperti peniruan atau imitation. Dan setiap anak
dilahirkan dengan dibekali “alat pemerolehan bahasa” (language acquisition
device (LAD). Alat ini yang merupakan pemberian biologis yang sudah di
programkan untuk merinci butir-butir yang mungkin dari suatu tata bahasa. LAD
dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk memproses
bahasa, dan tidak punya kaitan dengan kemampuan kognitif lainnya.
Pandangan Behavorisme
Pandangan ini
diwakili oleh B.F Skinner, yang menekankan bahwa proses pemerolahan bahasa
pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang
diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behavioris dianggap
kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratlan suatu wujud, sesuatu yang
dimiliki atau digunakan, dan sesuatu yang di lakukan. Padahal bahasa itu
merupakan salah satu perilaku-perilaku manusia lainnya. Oleh karena itu, mereka
lebih suka menggunakan istilah perilaku verbal (verbal behavior), agar tampak
lebih mirip dengan perilaku kain yang harus dipelajari.Menurut kaum behavioris
kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan
dari lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya,
tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku
verbalnya. Kaum behavioris bukan hanya tidak mengakui peran aktif si anak dalam
proses penerolehan bahasa, malah juga tidak mengakui kematangan anak. Proses
perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan
oleh lingkungannya. Dan kemampuan yang sebenarnya dalam berkomunikasi adalah
dengan prinsip pertalian S-R (stimuls-respons) dan proses peniruan-peniruan.
Pandangan Kognitivisme
Jean Piaget (1954) menyatakan bahwa bahasa
itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkah salah satu di antara
beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi
oleh nalar, maka perkembangan bahasa harus berlandas pada perubahan yang lebih
mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urut-urutan perkembangan
kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa.
Piaget menegaskan bahwa stuktur yang
kompleks dari bahasa bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam, dan bukan pula
sesuatu yang dipelajari dari lingkungan. Struktur bahasa itu timbul sebagai
akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif anak
dengan lingkungan kenahsaannya (juga lingkungan yang lain).
Jika Chomsky berpendapat bahwa lingkungan
tidak besar pengaruhnya pada proses pematangan bahasa, maka Piaget berpendapat
bahwa lingkungan juga tidak besar pengaruhnya terhadap perkembangan intelaktual
anak. Perubahan atau perkembangan intelaktual anak sangat tergantung pada
keterlibatan anak secara aktif dengan lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar