Jumat, 28 Juni 2013

Anak sebagai suatu Totalitas


NAMA               : ANDI RAMADHANA B
NIM                   : 1247141027
KELAS              : C7.1
KELOMPOK   :  V

B. Anak sebagai Suatu Totalitas
    Sebagai objek studi psikologi perkembangan, anak dipandang sebagai suatu totalitas. Konsep anak sebagai suatu totalitas sekurang-kurangnya dapat mengandung riga pengertian berikut :
a.     Anak adalah makhluk hidup(organisme)yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yangterdapat dalam dirinya.
b.     Dalam kehidupan dan perkembangan anak, keseluruhan aspek anak tersebutsalin terjalin satu sama lain.
c.      Anak berbeda dari orang dewasa bukan sekedar secara fisik, tetapi secara keseluruhan.
     Sebagai suatu totalitas, anak dipandang sebagai makhluk hidup (organisme) yg utuh, yakni sebagai suatu kesatuan dari keseluruhan aspek fisik dan psikis yg terdapat dalam dirinya. Keseluruhan aspek fisik dan psikis anak tersebut tak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena itu, anak juga dipandang sebagai individu. Istilah individu berasal dari kata undivided yg berari tak dapat dipisahkan antara suatu bagian dgn bagian lainnya. Dalam hal ini, tentunya Anda tidak akan memandang sebagai anak kepada sekumpulan organ tubuh anak (misalnya ada kepala, bagian tubuh, dua lengan, dan dua kaki) yg terpisah satu sama lain.
      Lebih lanjut, konsep anak sebagai suatu totalitas atau kesatuan mengandung arti bahwa terdapat saling keterjalinan atau keterikatan antara keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak. Keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak tersebut secara terintegrasi saling terjalin dan saling memberikan dukungan fungsional satu sama lain. Sebagai misal, anak yg sedang sakit panas bisa menjadi lain perilakunya(rewel); anak yg sedang marah bisa menangis menjerit-jerit, anak yg sedang malu bisa kemerah-merahan pipinya, anak yg sedang aktif melakukan berbagai aktivitas fisik bisa aktif pula kegiatan mentalnya. Contoh-contoh tersebut mengilustrasikan adanya keterkaitan dan keterpaduan dalam proses kehidupan dan aktivitas anak. Reaksi-reaksi psikis anak selalu disertai dengan reaksi fisiknya, dan begitu pula sebaliknya.
     Bila dibanding dgn orang dewasa, konsep anak sebagai suatu totalitas juga mengandung arti bahwa perbedaan anak dengan orang dewasa tidak terbatas secara fisik melainkan secara keseluruhan. Anak bukan miniatur dari orang dewasa, tetapi anak adalah anak yg dalam keseluruhan aspek dirinya bisa berbeda dari org dewasa. Secara fisik, anak sedang mengalami pertumbuhan yg pesat, sebaliknya, fisik org dewasa sudah relatif tidak berkembang lagi. Sementara anak cenderung didomoinasi oleh pola pikir yg bersifat egosentrik, maka org dewasa sudah lebih mampu berpikir empatik dan sosial. Begitu juga kalau daya pikir anak masih terbatas pada hal-hal yg konkret, maka orang dewas sudah mampu berpikir abstrak dan universal.
      Demikian pengertian anak sebagai totalitas, yakni sebagai suatu organisme atau individu yg merupakan suatu kesatuan yg terintegrasi dari keseluruhan organ fisik dan aspek psikis yg terdapat dalam dirinya. Keseluruhan aspek yg terdapat dalam diri anak tersebut salin terjalin satu sama lain. Karena itu, perbedaan anak dengan orang dewasa tidak hanya terjadi dalam aspek fisik atau fsikis, melainkan secara keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar