MAKALAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Disusun
Oleh :
Nama
: Andi Ramadhana B
NIM : 1247141027
Kelas
: C.71
UPP
PGSD PAREPARE
FIP
UNM
2013
Kata
Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas segala nikmat yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya
Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
§ Rekan-rekan
mahasiswa seperjuangan yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang sudah
sangat membantu dalam terselesaikannya makalah ini
§ Semua
pihak yang secara langsung maupun tidak langsung juga membantu dalam pembuatan
makalah ini
Harapan penulis semoga dengan adanya pembuatan makalah ini
dapat membuat bakat dan kreativitas kita sebagai calon guru sekolah dasar dalam
bidang tulis menulis semakin bertambah
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh sempurna,
untuk itu penulis harapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar
menjadi lebih baik dimasa yang akan dating.
Apabila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini
penulis mohon maaf yang setulus-tulusnya.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembuatan makalah ini didasarkan karena adanya mata kuliah
Pendidikan Peserta Didik yang mengharuskan setiap mahasisiwa S1 program studi PGSD
Universitas Sebelas Maret untuk dapat menyumbangkan karyanya minimal 1 artikel
ataupun makalah disetiap akhir penutupan Kompetensi Dasar.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan
pertumbuhan dan perkembangan?
2.
Apa maksud dari anak adalah totalitas?
3.
Apa maksud perkembangan sebagai
proses holistic?
4.
Apakah yang dimaksud kematangan dan
pengalaman?
5.
Bagaimana perkembangan biologis dan
perseptual anak?
6.
Apakah pengaruh faktor hereditas dan
lingkungan terhadap perkembangan anak?
C. Tujuan
1.
Mengetahui apa yang dimaksud dengan
pertumbuhan dan perkembangan
2.
Mengetahui apa yang dimaksud dengan
anak adalah totalitas
3.
Mengetahui maksud perkembangan
sebagai proses holistic
4.
Mengetahui arti kematangan dan
pengalaman
5.
Mengetahui perkembangan biologis dan
perseptual anak
6.
Mengetahui pengaruh hereditas dan
lingkungan terhadap perkembangan anak
PEMBAHASAN
A. Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada
segi jasmaniah atau fisik dan atau menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu
yang baru (yang tadinya belum tampak) dari organisme atau individu. Konsep
pertumbuhan mempunyai makna luas, mencangkup segi-segi kuantitatif dan
kualitatif serta aspek-aspek fisik-psikis seperti yang terkandung dalam
istilah-istilah pertumbuhan, kematangan dan belajar atau pendidikan dan
latihan. Belajar atau pendidikan menunjukkan kepada perubahan pola-pola
sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil usaha
individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah tiba
masa pekanya. Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan
perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secara intensional
atau dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan
perubahan dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah
menurut jalannya pertambahan waktu atau usia yang ditempuh oleh yang
bersangkutan. Pertumbuhan terbatas pada perubahan-perubahan yang bersifat
evolusi (menuju ke arah yang lebih sempurna). Perubahan-perubahan aspek fisik
dapat diidentifikasikan relative lebih mudah manifestasinya karena dapat
dilakukan pengamatan langsung seperti tinggi dan berat badan, tanggal dan
tumbuhnya gigi dan sebagainya. Lain halnya dengan segi-segi psikis yang
relative sulit diidentifikasi karena kita hanya mengamati dan sampai batas
tertentu.
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh
individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara
sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.
Perkembangan juga bertalian dengan
beberapa konsep pertumbuhan (growth), kematangan (maturation), dan belajar
(learning) serta latihan (training)..
Perkembangan individu dapat
ditujukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah atau berkurangnya
bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat diamati dan
diukur dengan mempergunakan teknik dan instrument yang sesuai. Contoh
perkembangan proses berpikir, kemampuan berbahasa dan lain-lain.
B. Anak Sebagai Suatu Totalitas
Konsep anak sebagai suatu totalitas
mengandung tiga pengertian, yaitu :
1. Anak adalah makhluk hidup yang merupakan suatu kesatuan dari
keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya.
Sebagai suatu totalitas, anak
dipandang sebagai makhluk hidup yang utuh, yakni sebagai suatu kesatuan dari
keseluruhan aspek fisik dan psikis yang terdapat dalam dirinya. Keseluruhan
aspek fisik dan psikis anak tersebut tidak dapat dapat dipisahkan satu sama
lain. Karena itu anak dipandang sebagai suatu individu. Dalam hal ini kita
tidak akan memandang anak sebagai kumpulan organ-organ misalnya ada kepala,
kaki, tangan, dan bagian tubuh
yang terpisah satu sama lain.
2. Keseluruhan aspek anak saling terjalin satu sama lain
Keseluruhan aspek yang terdapat
dalam diri anak tersebut secara terintegrasi saling terjalin dan memberikan
dukungan satu sama lain. Sebagai misal, anak yang dimarahi orang tuanya bisa
tidak berselera makan, anak yang sedang sakit nafsu makannya berkurang dan
lain-lain. Contoh tersebut mengilustrasikan adanya keterkaitan dan perpaduan
dalam proses kehidupan dan aktivitas anak. Reaksi-reaksi psikis anak selalu
disertai dengan reaksi fisiknya, begitu pula sebaliknya.
3. Anak berbeda dari orang dewasa bukan sekedar fisik, tetapi
secara keseluruhan.
Anak bukan miniature orang dewasa,
tetapi anak adalah anak yang dalam keseluruhan aspek dirinya bisa berbeda
dengan orang dewasa, baik dalam segi fisik, cara berfikir, rasionalitas, daya
pikir maupun pola pikirnya. Jadi jangan memaksa anak sesuai dengan yang kita
inginkan karena anak itu juga mempunyai dunianya sendiri. Biarlah mereka
menjadi diri mereka sendiri, suatu saat dengan kematangan dan pengalaman mereka
akan menjadi dewasa.
C. Perkembangan sebagai Proses Holistik dari aspek biologis,
kognitif, dan psikososial.
Sesuai dengan konsep anak sebagai
suati totalitas atau sebagai individu, perkembangan juga merupakan suatu proses
yang sifatnya menyeluruh (holistik). Artinya perkembangan terjadi tidak hanya
dalam aspek tertentu, melainkan melibatkan keseluruhan aspek yang saling
terjalin satu sama lain. Secara garis besar, proses perkembangan individu dapat
dikelompokkan ke dalam 3 domain, yaitu :
1. Proses Biologis
Proses biologis atau perkembangan
fisik mencangkup perubahan-perubahan dalam tubuh individu seperti pertumbuhan
otak, otot, sistem syaraf, struktur tulang, hormon, organ-organ indrawi, dan
sejenisnya. Perubahan dalam cara menggunakan tubuh atau keterampila motorik dan
perkembangan seksual juga dikelompokkan ke dalam domain ini. Tetapi domain
perkembangan ini tidak mencangkup perubahan fisik karena kecelakaan, sakit,
atau peristiwa-peristiwa khusus lainnya.
2. Proses Kognitif
Proses ini melibatkan
perubahanperubahan dalam kemampuan dan pola berpikir, kemahiran bahasa, dan
cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungannya. Aktivitas-aktivitas
seperti mengamati dan mengklasifikasikan benda-benda, menyatukan beberapa kata
menjadi satu kalimat, menghafal sajak atau doa, memecahkan soal-soal
matematika, dan menceritakan pengalaman merefleksikan peran kognitif dalam
perkembangan anak.
3. Proses Psikososial
Proses ini melibatkan
perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu serta
cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain.
Aspek-aspek tersebut saling
berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya saja jika seorang anak
mengalami gangguan pendengaran maka dia dapat mengalami keterlambatan dalam
perkembangan bahasa dikarenakan tidak adanya kata-kata yang dapat masuk dan
dicerna di otaknya.
D. Kematangan dan Pengalaman dalam Perkembangan Anak
Kematangan atau masa peka menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang
merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak
kesiapan (readiness) dari suatu fungsi (psikofisis) untuk menjalankan
fungsinya.Pengalaman adalah peristiwa-peristiwa yang dialami individu
dalam interaksi dengan lingkungan. Kematangan ditentukan oleh beberapa faktor
antara lain pengalaman, pola asuh dan kesempatan yang diberikan. Secara usia
anak yang berusia 7tahun harusnya memiliki pengalaman yang lebih banyak
dibandingkan usia 6tahun. Namun pengalaman menjadi berbeda ketika pola asuh yan
diberikan berbeda
F.
Perkembangan Biologis dan Perseptual
Anak
1. Perkembangan Fisik
a. Tinggi dan Berat Badan
Pertumbuhan fisik pada usia SD
cenderung lebih lambat dan relatif konsisten. Laju perkembangan seperti ini
berlangsung sampai terjadinya perubahan-perubahan besar pada awal masa
pubertas. Kaki anak lazimnya menjadi lebih panjang dan tubuhnya menjadi lebih
kurus. Massa dan kekuatan otot anak secara bertahap terus meningkat di saat
semakin menurunnya kadar ‘lemak bayi’. Selama usia SD ini, kekuatan fisik anak
lazimnya meningkat dua kali lipat. Gerakan-gerakan lepas pada masa sebelumnya
sangat menbantu pertumbuhan otot ini.
b. Proporsi dan Bentuk Tubuh
Anak SD kelas awal umumnya masih
memiliki proporsi tubuh yang kurang seimbang. Kekurangseimbangan ini sedikit
demi sedikit berkurang sampai terlihat perbedaannya ketika anak mencapai kelas
5 atau 6. Pada kelas-kelas akhir SD, lazimnya proporsi tubuh anak sudah
mendekati keseimbangan. Berdasarkan tipologi Sheldon ada tiga kemungkinan
bentuk primer tubuh anak SD. Tiga bentuk primer tubuh tersebut adalah :
1) Endomorph, yakni yang tampak dari luar berbentuk gemuk dan
berbadan besar
2) Mesomorph, yakni yang kelihatannya kokoh, kuat, dan lebih
kekar
3) Ectomorph, yakni yang tampak jangkung, dada pipih, lemah,
dan seperti tak berotot
2. Perkembangan Perseptual
Persepsi adalah interpretasi terhadap
informasi yang ditangkap oleh indra penerima. Persepsi merupakan proses
pengolahan informasi lebih lanjut dari aktivitas sensasi.
a. Persepsi Visual
Adalah persepsi yang didasarkan pada
penglihatan dan sangat mengutamakan peran indra penglihatan dalam proses
perseptualnya. Dilihat dari dimensinya, ada enam jenis persepsi visual yang
dapat dibedakan, yakni :
1) Persepsi Konstanitas Ukuran
Adalah kemampuan individu untuk
mengenal bahwa setiap objek memiliki suatu ukuran yang konstan meskipun
jaraknya berbeda. Contohnya anak mampu mempersepsikan bahwa bahwa jalan
dipegunungan itu sama lebarnya tetapi ketika digambar semakin jauh semakin
kecil. Anak yang sudah mengerti tentang konsep ini akan menjawab bahwa ini
berkaitan dengan jarak, tetapi yang belum mengerti mereka akan menjawab dengan
sekenanya “ Emang dari dulu gambarnya gitu bu !”.
2) Persepsi Objek atau Gambar Pokok dan Latar
Persepsi ini memungkinkan individu
untuk menempatkan suatu objek yang berada atau tersimpan pada suatu latar yang
membingungkan. Kemampuan ini akan terlihat dalam gambar anak. Misalnya
kemampuan anak dalam menggambar gambar yang tertutup oleh gambar lain.
3) Persepsi Keseluruhan dan Bagian
Merupakan kemampuan untuk membedakan
bagian-bagian suatu objek atau gambar dari keseluruhannya.
4) Persepsi Kedalaman
Kemampuan seseorang untuk mengukur
jarak dari posisi tubuh ke suatu objek.persepsi ini memerlukan ketajaman visual
yang baik
5) Persepsi Tilikan Ruang
Merupakan kemampuan penglihatan
untuk mengidentifikasi, mengenal, dan mengukur dimensi
6) Persepsi Gerakan
Melibatkan kemampuan memperkirakan
dan mengikuti gerakan atau perpindahan suatu objek oleh mata. Kemampuan
persepsi ini juga sudah mulai dikembangkan sejak bayi terhadap gerakan
horizontal, disusul terhadap gerakan vertikal, gerakan diagonal, dan terakhir
terhadap gerakan berputar.
b. Persepsi Pendengaran
Persepsi pendengaran merupakan
pengamatan dan penilaian terhadap suara yang diterima oleh bagian telinga.
Seperti halnya persepsi penglihatan, perkembangan persepsi pendengaran mencakup
beberapa dimensi, yaitu: persepsi lokasi pendengaran, persepsi perbedaan
terhadap suara-suara yang mirip, dan persepsi pendengaran pokok dan latarnya.
1) Persepsi Lokasi Pendengaran
Persepsi ini berkenaan dengan
kemampuan mendeteksi tempat munculnya suatu sumber suara. Misalnya, kalau si
anak dipanggil dari sebelah kiri, maka ia menenggok ke sebelah kiri; kalau ada
pada langit langit ada suara yang menakutkan, maka ia memusatkan perhatiannya
ke arah sumber suara tersebut
2) Persepsi Perbedaan
3) Persepsi Pendengaran Utama dan Latarnya
Kemampuan untuk memperhatikan
suara-suara tertentu dengan mengabaikan suara-suara lain yang tidak
berhubungan. Misalnya kita perlu mendengarkan suara guru yang sedang mengajar
sambil mengabaikan suara-suara gaduh yang datang dari luar kelas.
G. Faktor Hereditas dan Lingkungan dalam Perkembangan Anak
Setiap manusia mempunyai pola
pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu:
a. Faktor Hereditas
Faktor hereditas ada dalam diri
manusia itu sendiri. Disini terjadi totalitas karakter dari orang tua kepada
anak, dari sini pula kepribadian anak mulai terbentuk karena didikan orang tua.
b. Faktor Lingkungan
Faktor ini juga dapat disebut dengan
faktor luar. Dalam lingkungan anak diajarkan tentang nilai-nilai budaya
setempat.
Dengan faktor tertentu dan faktor
lingkungan tertentu pula maka akan menghasilkan pola pertumbuhan dan
perkembangan tertentu pula. Setiap individu lahir dengan hereditas tertentu.
Namun individu itu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya baik
lingkungan fisik, lingkungan psikologi, maupun lingkungan social. Setiap
pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari
hereditas dan lingkungan.
Hubungan antara faktor hereditas dan
lingkungan, faktor hereditas beroperasi dengan cara yang berbeda-beda menurut
kondisi dan keadaan lingkungan yang berbeda-beda pula. Selain dengan interaksi
hubungan antara hereditas dan lingkungan dapat pula digambarkan sebagai
additive contribution (sama-sama menyumbang bagi pertumbuhan dan perkembangan
fisiologi dan juga tingkah laku.
Diantara kedua faktor tersebut tidak
ada faktor yang lebih dominan karena keduanya saling mengisi dan mempengaruhi
satu sama lain. Tidak selamanya yang diinginkan lingkungan kepada seorang anak
akan menjadi kenyataan, begitu pula sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar