Periode Perkembangan Bahasa Anak
M. Schaerleakens
(1977) membagi fase-fase perkembangan bahasa anak dalam empat periode.
Perbedaan fase-fase ini berdasarkan pada ciri-ciri tertentu yang khas pada
setiap periode. Adapun periode-periode tersebut sebagai berikut:
1. Periode Prelingual (usia 0 – 1 tahun)
Disebut demikian
karena anak belum dapat mengucapkan ‘bahasa ucapan’ seperti yang diucapkan
orang dewasa, dalam arti belum mengikuti aturan-aturan bahasa yang berlaku.
Pada periode ini anak mempunyai bahasa sendiri, misalnya mengoceh sebagai ganti
komunikasi dengan orang lain. Contohnya baba,mama, tata, yang
mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai
awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental pada usia 9-10 bulan.
Pada periode ini,
perkembangan yang menyolok adalah perkembangan comprehension, artinya
penggunaan bahasa secara pasif. Misalnya anak mulai bereaksi terhadap
pembicaraan orang dengan melihat kepada pembicara dan memberikan reaksi yang
berbeda terhadap suara yang ramah, yang lembut, dan yang kasar.
2. Periode Lingual Dini (1 – 2,5 tahun)
Pada periode ini
anak mulai mengucapkan perkataannya yang pertama, meskipun belum lengkap.
Misalnya: atia (sakit), agi (lagi), itut (ikut), atoh (jatuh). Pada masa ini
beberapa kombinasi huruf masih sukar diucapkan, juga beberapa huruf masih sukar
untuk diucapkan seperti r, s, k, j, dan t. pertambahan kemahiran berbahasa pada
periode ini sangat cepat dan dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu:
a) Periode kalimat
satu kata ( holophrare)
Menurut aturan tata
bahasa, kalimat satu kata bukanlah suatu kalimat, karena hanya terdiri dari
satu kata, tetapi para ahli peneliti perkembangan bahasa anak beranggapan bahwa
kata-kata pertama yang diucapkan oleh anak itu mempunyai arti lebih dari hanya
sekedar suatu ‘kata’ karena kata itu merupakan ekspresi dari ide-ide yang
kompleks, yang pada orang deawasa akan dinyatakan dalam kalimat yang lengkap.
Contohnya: ucapan
“ibu” dapat berarti:
Ibu kesini! Ibu
kemana? Ibu tolong saya!
Itu baju ibu, Ibu
saya lapar, dst.
Pada umunya, kata
pertama ini dipergunakan untuk member komentar terhadap obyek atau kejadian di
dalam lingkungannya. Dapa berupa perintah, pemberitahuan, penolakan,
pertanyaan, dll. Bagaimana menginterpretasikan kata pertama ini tergantung pada
konteks waktubkata tersebut di ucapkan, sehingga untuk dapat mengerti apa
maksud si anak dengan kata tersebut kita harus melohat atau mengobservasi apa
yang sedang dikerjakan anak pada waktu itu. Intonasi juga sangat membantu untuk
mempermudah menginterpretasikan apakah si anak bertana, member tahu, atau
memerintah.
b) Periode kalimat
dua kata
Dengan bertambahnya
perbendaharaan kata yang diperolah dari lingkungan dan juga karena perkembangan
kognitif serta fungsi-fungsi lain pada anak, maka terbentuklah pada periode ini
kalimat yang terdiri dari dua kata.
Pada umunya,
kalimat kedua muncul pertama kali tatkala seorang anak mulai mengerti suatu
tema dan mencoba untuk mengekspresikannya. Hal ini terjadi pada sekitar usia 18
bulan, dimana anak menentukan bahwa kombinasi dua kata tersebut mempunyai
hubungan tertentu yang mempunya makna berbeda-beda, misalnya makna kepunyaan
(baju ibu), makna sifat (hidung pesek), dan lain sebagainya.
c)
Kalimat lebih dari dua kata
Kalau ada lebih dari
dua kata di bidang morfologi belum terlihat perkembangan yang nyata, maka pada
periode kalimat lebih dari dua kata sudah terlihat kemampuan anak di bidang
morfologi. Keterampilan membentuk kalimat bertambah, terlihat dari panjangnay
kalimat, kalimat tiga kata, kalaimat empat kata, dan seterusnya. Pada periode
ini penggunaan nahasa tidak bersifat egosentris lagi, melainkan anak sudah
mempergunakan untuk komunikasi dengan orang lain, sehingga mulailah terjadi
suatu hubungan yang sesungguhnya antara anak dengan orang dewasa.
Periode Diferensiasi (usia 2,5 – 5 tahun)
Yang menyolok pada
periode ini adalah keterampilan anak dalam mengadakan diferensiasi dalam
penggunaan kata-kata dan kalimat-kalimat. Secara garis besar cirri umum
perkembangan bahasa pada periode ini adalah sebagai berikut:
Pada akhir periode
secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya hukum-hukum
tatabahasa yang pokok dari orang dewasa telah dikuasai. Perkembangan fonologi
boleh dikatakan telah berakhir. Mungkin masih ada kesukaran pengucapan konsonan
yang majemuk dan sedikit kompleks. Perbendaharaan kata sedikit demi sedikit
mulai berkembang. Kata benda dan karta kerja mulai lebih terdiferensiasi dalam
pemakaiannya, hal ini ditandai dengan penggunaan kata depan, kata gati dank at
kerja bantu. Fungsi bahasa untuk komunikasi benar-benar mulai berfungsi.
Persepsi anak dan pengalamannya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan
orang lain, dengan cara memberikan kritik, bertanya, menyuruh, membri tahu dan
lain-lain. Mulai terjadi perkembangan di bidang morfologi, ditandai dengan
munculnya kata jamak, perubahan akhiran, perubahan kata karja, dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar